Alasan Bon Pinjam Sidang Akpol Ditunda

Dua Kali Sidang Akpol Ditunda

No comment 97 views


banner 160x600
Women faceIlustrasi: Tahanan di PN Semarang saat akan jalani sidang-Istimewa

SEMARANG,FAKTAJATENG.com– Untuk kedua kalinya sidang perkara yang menjerat 14 terdakwa taruna tingkat III Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang yang diduga melakukan penganiayaan terhadap Brigadir Taruna Dua Muhammad Adam hingga tewas ditunda, Selasa (12/9/2017). Sidang kali ini kembali ditunda dengan alasan sama seperti penundaan sidang pekan lalu, yakni para terdakwa dibon pinjam pihak Akpol untuk menjalani sidang kode etik.

“Sidang ditunda dengan alasan seperti sebelumnya, silakan detailnya konfirmasi ke atasan kami,”kata JPU Slamet Margono usai sidang.

Atas penundaan itu, majelis hakim yang dipimpin Antonius Widijantono menunda sidang hingga Selasa (19/9/2017) pekan depan. Sebelum sidang Panitera Pengganti (PP) Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Agus S, saat ditanya wartawan juga mengelak untuk memberikan penjelasan detail penundaan tersebut. Ia beralasan karena sidang belum berlangsung akibat ditunda Selasa depan, maka belum bisa memberikan alasan perkembangan.

“Saya belum bisa memberikan keterangan perkembangan, sidangnya belum berlangsung,”ujarnya singkat.

Dalam persidangan itu, terlihat ruang pengadilan pada bagian depan dijaga pihak kepolisian, bahkan saat koran ini mau mewawancarai pihak-pihak, mulai hakim dan jaksa, justru langsung beranjak pergi ke ruang kerjanya.

Tak hanya itu, di depan ruang sidang juga ada pengacara para tersangka, namun saat hendak diwawancara justru tidak mau memberikan jawaban dengan alasan sidang ditunda.Dalam penundaan sidang perdana, Slamet Margono mengaku, sudah berupaya menjemput para tersangka ke ruang tahanan Mapolda Jateng. Namun sejak malam hari para tersangka masih dibon Akpol untuk sidang kode etik.

“Waktunya juga tidak bisa diperkirakan apakah selesai hari ini, untuk itu kami minta waktu ditunda satu minggu," kata Slamet Margono.

Slamet mengatakan, seharusnya ada tiga berkas yang akan dibacakan terkait dakwaan tersebut. Menurutnya, tebal berkas dakwaan yang akan dibacakan juga bervariasi. Ia mengakui, bon tahanan tersangka oleh Akpol merupakan yang pertama.

"Tebal dakwaan tergantung terdakwa yang disidangkan. Kalau yang disidang banyak, paling lima lembar. Kalau satu orang atau empat orang, sama sepuluh lembar. Kalau pasal dibacakan nanti saat dihadirkan ke persidangan," sebutnya.

Dalam kasus itu, satu tersangka diperiksa majelis hakim yang dipimpin Abdul Halim Amran didampingi dua hakim anggota, yakni Manungku Prasetyo dan Pudji Widodo. Sembilan tersangka lain diperiksa majelis hakim yang dipimpin Casmaya, didampingi dua hakim anggota, yakni Edy Suwanto dan Suparno. Atas alasan itu, majelis hakim menunda sidang pada Selasa pekan depan dengan agenda dakwaan JPU gabungan.

Sebelumnya, Humas PN Semarang Muh Saenal mengatakan sidang ditunda karena jaksa belum bisa menghadirkan terdakwa. Diakuinya, perkara itu, terdapat tiga berkas dakwaan yang terbagi menjadi 3 tim hakim.

"Agenda hari ini sidang pertama menghadirkan terdakwa, memeriksa identitas terdakwa, dan mengecek sekaligus didampingi penasehat hukum atau tidak. Untuk lebih jelas bisa ke jaksa," katanya.

Seperti diketahui, berkas perkara ke-14 terdakwa terbagi tiga. Pertama untuk sembilan terdakwa dengan nomor perkara 646/Pid.B/2017/PN Smg. Kedua satu terdakwa, nomor perkara 647/Pid.B/2017/PN Smg, dan ketiga untuk empat terdakwa dengan nomor perkara 648/Pid.B/2017/PN Smg.

Perkara nomor 646 untuk sembilan terdakwa. Yakni, Joshua Evan Dwitya Pabisa, Reza Ananta Pribadi, Indra Zulkifli Pratama Ruray, Praja Dwi Sustrino, Aditia Khaimara Urfan, Chikitha Alviano Eka Wardoyo, Rion Kurnianto, Erik Aprilyanto dan Hery Avianto. Mereka dijerat dakwaan tunggal pasal 170  ayat (1) KUHP.   

Perkara nomor 647 atas nama seorang terdakwa Rinox Lewi Wattimena alias Rinox. Dia dijerat dakwaan ke satu pertama, pasal 338 KUHP jo pasal 56 ayat (2) KUHP dan kedua pasal 170  ayat (2) ke-3 KUHP jo pasal 56 ayat (2) KUHP. Dakwaan kedua 170 ayat (1) KUHP jo pasal 56 ayat (2) KUHP. Perkara nomor 648 untuk empat terdakwa, yakni Christian Atmadibrata Sermumes, Gibrail Charthens Manorek, Martinus Bentanone dan Gilbert Jordi Nahumury. Mereka dijerat dakwaan ke satu pertama dengan pasal 338 KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau kedua Pasal 170  ayat (2) ke-3 KUHP. Dan kedua  dijerat pasal 170 ayat (1) KUHP.

Reporter : Bayu Efendi

Editor: Dadang DP